Rabu, 20 Juni 2018

Memahami Nameplate Motor Induksi

Induction Motor Nameplate

Nameplate atau pelat indikasi nama pada peralatan listrik seperti motor induksi sangatlah penting dikarenakan informasi di dalam nameplate inilah yang membuat kita bisa memahami spesifikasi ketika motor tersebut dibuat oleh pabrikan motor. Nameplate ini juga harus memiliki bahasa universal sehingga mudah dipahami oleh pihak yang akan melakukan instalasi atau melakukan perbaikan terhadap motor tersebut. 
Contoh Motor Nameplate. Properti of Siemens

Jika kita mengacu ke standard NEC (National Electrical Code), maka terdapat beberapa informasi yang harus ada pada nameplate motor induksi, diantaranya:
  1. Rated voltage or voltages
  2. Rated full-load ampere for each voltage level
  3. Frequency
  4. Phase
  5. Rated full-load speed
  6. Insulation class and rated ambient temperature
  7. Rated horsepower
  8. Time rating
  9. Locked-rotor code letter
  10. Manufacturer's name and address
diluar informasi diatas, nameplate motor juga dilengkapi dengan data ukuran frame, NEMA design letter, service factor, full load efficiency, dan juga power factor.

Rated Voltage

Motor induksi dirancang untuk memiliki performa yang optimal ketika beroperasi pada level tegangan tertentu atau kombinasi dari level level tegangan tertentu pada dual voltage motor. Nilai tegangan tersebut dinamakan nilai voltage nameplate. Dalam aktual instalasi di lapangan kondisi tegangan dari sistem distribusi tenaga listrik bisa saja berubah atau beban yang dihubungkan dengan motor tersebut juga berubah, maka manufaktur biasanya merancang toleransi sekitar 10% diatas atau dibawah tegangan rating tersebut. Sebagai contoh motor dengan rating nameplate 460V bisa beroperasi dalam range tegangan 414V sampai dengan 506V.

Rated full-load ampere

Pada saat torsi beban pada motor meningkat, maka jumlah arus yang diperlukan untuk memutar motor juga semakin meningkat. Ketika torsi beban maksimal dan daya maksimal motor tercapai, maka nilai arus yang muncul dinamakan sebagai full-load ampere (FLA). Nilai ini didapatkan dari hasil pengujian laboratorium, dimana nilainya sedikit dibulatkan dan dicatat dalam nameplate motor. nilai FLA pada nameplate digunakan untuk memilih ukuran conductor cable yang tepat, jenis starter yang digunakan dan proteksi overload yang dibutuhkan untuk melindungi motor tersebut ketika beroperasi.
Typical Motor Curve Characteristic. Picture taken from http://avsld.com.sg/typical-torque-speed-curve-of-a-cage-induction-motor/

Frequency

Untuk dapat beroperasi, maka frekuensi dari motor harus sesuai dengan frekuensi dari sistem tenaga listrik yang digunakan untuk menyuplai motor tersebut. Di Amerika umumnya menggunakan frekuensi 60Hz sementara di belahan dunia lain termasuk di Indonesia menggunakan sistem dengan frekuensi 50 Hz.

Phase

Pada motor jumlah fasa akan menentukan jenis motornya, apakah motor jenis 3 fasa atau jenis motor 1 fasa. Perbedaan jumlah fasa akan mempengaruhi jumlah core cable serta rating tegangan yang digunakan untuk menyuplai tenaga listriknya.

Rated full-load speed

Nilai ini adalah nilai perkiraan kecepatan dalam keadaan full load, ketika tegangan dan frekuensinya juga sesuai dengan nilai rating yang disyaratkan. Nilai aktual kecepatan dalam kondisi full load ini bisa saja sedikit dibawah nilai yang tertera pada nameplate dikarenakan faktor toleransi ketika proses manufakturing, temperatur motor dan variasi dari tegangan suplai. Pada motor induksi standar, besarnya kecepatan full load ini sekitar 96% sampai dengan 99% dari kecepatan motor tanpa beban (no-load).

Insulation class & rated ambient temp

Salah satu elemen yang penting dalam pengoperasian motor induksi adalah nilai temperature maksimal yang muncul pada titik terpanas di dalam motor. Temperature yang muncul pada titik tersebut merupakan kombinasi dari desain motor (temperature rise) dan ambient / suhu udara sekitar.

Pada nameplate biasanya dituliskan nilai temperature ambient maksimal yang diperbolehkan, umumnya di 40 derajat C (104 derajat F) dan kelas insulasi yang digunakan pada desain motor. Kelas insulasi motor diantaranya kelas B, F, dan H.

Rated Horsepower

Horsepower merupakan standar yang digunakan untuk mengukur seberapa besar beban yang dapat diputar oleh motor. Nilai ini berdasarkan nilai torsi full load dan kecepatan full load dan dapat dihitung dengan persamaan berikut ini:
Horse power (HP) = [Motor Speed x Torsi (lb-ft)] / 5,250
pada tabel NEMA standar, nilai dari horsepower motor bervariasi mulai dari 1 hp sampai dengan 450 hp. 

Time rating

Motor standard di desain untuk beroperasi secara terus menerus (24 jam/7 hari) pada rating beban dan nilai temperatur ambient maksimum. Sementara ada juga motor yang di desain secara khusus untuk beroperasi dalam waktu yang singkat dimana memang secara fungsi motor tersebut hanya dibutuhkan secara intermittent. Motor motor yang dioperasikan dalam waktu singkat (short-time) ini memiliki rating waktu 5-60 menit. 

Locked-rotor code letter

Ketika AC motor dinyalakan dengan tegangan penuh sesuai ratingnya, maka bisa muncul arus inrush yang nilainnya beberapa kali lipat lebih besar dari nilai arus full load.
Picture taken from https://www.sunpower-uk.com/glossary/what-is-inrush-current/

Nilai dari arus yang besar ini bisa sangat penting pada beberapa instalasi listrik karena dapat menyebabkan voltage dip atau turunnya nilai tegangan di sistem sehingga bisa mempengaruhi peralatan lain yang terhubung pada sistem yang sama. Ada dua cara untuk mencari nilai dari arus ini, yaitu:
  • Mengacu kepada motor performance datasheet dari manufaktur. Umumnya akan ditulis sebagai nilai locked-rotor current.
  • Menggunakan locked rotor code letter yang menjelaskan nilai arus inrush yang muncul ketika motor di start.

Manufacture Name and address

Hampir semua manufaktur menuliskan nama mereka pada nameplate motor yang mereka produksi.


Sekian dulu sharing hari ini terkait dengan cara membaca nameplate motor induksi. Semoga bermanfaat :)

Rabu, 06 Juni 2018

Menghitung Ukuran Kabel Daya

Cable sizing merupakan salah satu dari perhitungan dasar yang harus diketahui ketika kita hendak melakukan desain sistem kelistrikan. Dalam perhitungannya ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan:
  1. Faktor Tegangan jatuh (voltage drop)
  2. Faktor Penurunan Rating (de-rating factor)
  3. Faktor Kapasitas Arus (Current- carrying capacity)
  4. Faktor Arus Hubung Singkat (Short Circuit)

Faktor Tegangan Jatuh

Pemilihan kabel harus mempertimbangkan jatuh tegangan yang diperbolehkan di dalam desain. Umumnya nilai jatuh tegangan yang diperbolehkan bervariasi bergantung kepada level tegangan sistem (Tegangan tinggi, Tegangan menengah, atau tegangan rendah). Contoh sederhana untuk memudahkan persyaratan jatuh tegangan bisa dilihat pada gambar di bawah:

Contoh Persyaratan Tegangan Jatuh

  • Perhitungan AC 3 Fasa dalam kondisi normal


Note: Data cable resistance dan reactance bisa didapatkan dari manufaktur kabel

  • Perhitungan AC 3 Fasa dalam kondisi motor starting

Note: Nilai starting motor 600% dan 700% merupakan nilai asumsi, jika kita sudah mengetahui aktual starting currentnya bisa menggunakan data aslinya.

  • Perhitungan AC 1 fasa



Faktor Penurunan Rating

Kapasitas hantar arus dari kabel akan mengalami pengurangan kapasitas bergantung kepada metode pengelompokan ketika instalasi (grouping factor) dan suhu di sekitar lokasi instalasi (ambient temperature). Suhu di sekitar lokasi instalasi sendiri juga dipengaruhi jenis instalasinya apakah di dalam tanah atau menggunakan cable support system (tray).



Courtesy of Kabel Metal Indonesia

Faktor Kapasitas Arus

Untuk memilih ukuran minimal dari kabel yang sesuai dengan beban yang dibutuhkan, akan menggunakan persamaan berikut ini:

Kapasitas hantar arus dari cable juga harus lebih besar dari ukuran peralatan proteksi untuk memastikan ketika terjadi arus yang berlebih, maka peralatan proteksi akan bekerja terleih dahulu sebelum merusak kabel.

Faktor Arus Hubung Singkat

Untuk kabel tegangan menengah, terdapat faktor kapabilitas hubung singkat terhadap arus gangguan yang harus dipertimbangkan. Kabel harus dihitung agar ketika terjadi arus gangguan, maka suhu dari conductor tidak melebihi batas yang diperbolehkan sehingga terhindar dari kerusakan permanen.

Ukuran minimal dari luas penampang konduktor kabel tegangan menengah serta durasinya dijelaskan dalam IEC 60346 pada persamaan berikut:

Mudah mudahan artikel ini bermanfaat :)
Terima kasih

Source:
Engineering Documents
KMI Cable Technical Data
IEC 60287 Electric Cables-calculation of the current rating
IEC 60364-5-52 Selection and erection of electrical equipment-Wiring systems
IEC 60949 Calculation of thermally permissible short circuit
IEC 60986 Short circuit temperature limits of electrical cable

Sabtu, 03 Juni 2017

Apa perbedaan antara MCB, MCCB, ELCB, dan RCCB?

Memang banyak sekali istilah di dunia tenaga listrik. Salah satunya adalah istilah yang dipakai untuk komponen pemutus daya atau yang biasa dikenal dengan nama kerennya circuit breaker. Ada beberapa jenis pemutus daya yang sering digunakan di dalam desain sistem tenaga listrik, diantaranya MCB, MCCB, ELCB dan RCCB. Yuk kita lihat satu satu perbedaannya apa saja:

MCB

MCB atau Miniature Circuit Breaker merupakan peralatan pemutus daya yang mungkin kita sering lihat di lingkungan rumah kita seperti di panel pembagian di rumah, panel distribusi di kantor, dan lain lain. Ya, jenis pemutus daya ini memang punya karakteristik sebagai berikut:
  • Rating arus umumnya tidak lebih dari 100A (saat ini ada produk MCB dengan size >100A).
  • Rating tegangan rendah (Low Voltage < 1 kV).
  • Kurva trip nya tidak bisa diatur, fix dan merupakan design dari manufaktur.
  • Fungsi kerjanya berdasarkan fungsi thermal  atau thermal-magnetic.
karena karakteristiknya tersebut maka tidak heran pemutus daya jenis ini adalah yang paling dekat dan paling sering digunakan oleh konsumen dalam kehidupan sehari hari.

Contoh MCB 1P. Courtesy of Schneider-Electric
Contoh MCB 1P + N. Courtesy of Schneider-Electric
Contoh MCB 3P. Courtesy of Schneider-Electric


Gambar diatas merupakan contoh MCB yang ada dipasaran saat ini, dengan jenis koneksi diantaranya 1 pole, 2 pole, 3 pole, 1pole + neutral, 2 pole + neutral dan masih banyak lagi jenis koneksinya sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Contoh Jenis Koneksi pada MCB. Courtesy of Schneider-Electric

MCCB

MCCB atau Moulded Case Circuit Breaker merupakan pemutus daya yang umumnya mulai digunakan pada sisi distribusi yang membutuhkan kapasitas arus yang lebih besar. Secara garis besar karakteristik dari MCCB adalah sebagai berikut:
  • Rating arus sampai dengan 1000A (saat ini sudah ada produk MCCB dengan rating 3200A).
  • Rating tegangannya rendah (< 1 kV)
  • Karakteristik trip nya adjustable dan bisa kita set sesuai kebutuhan kita.
  • Fungsi kerjanya berdasarkan fungsi thermal-magnetic atau pada MCCB yang dikendalikan oleh Electronic Trip Unit (ETU) atau microprocessor, karakter tripnya berdasarkan nilai yang di input.
  • MCCB bisa dikombinasikan dengan rele sebagai pemutus daya.
MCCB 3P Thermal-Magnetic. Courtesy of Schneider-Electric
MCCB 3P dengan ETU. Courtesy of Schneider-Electric


    MCCB banyak dipakai untuk kebutuhan distribusi serta proteksi di sistem tegangan rendah tetapi dengan kapasitas arus yang besar (>100A). Saat ini MCCB merupakan peralatan yang sangat mudah dikustomisasi sesuai dengan kebutuhan distribusi kita. Mulai dari jumlah koneksinya (3P, 4P atau 3P + N), menggunakan ETU atau menggunakan thermal magnetic curve, menambahkan auxiliary trip, perintah trip dari jauh, digunakan sebagai trip unit dari rele dan masih banyak lagi kustomisasi yang bisa kita lakukan.
    Konfigurasi wiring MCCB dengan ETU. Courtesy of Schneider-Electric
    Konfigurasi Wiring MCCB untuk remote operation. Courtesy of Schneider-Electric

    ELCB

    ELCB atau Earth Leakage Circuit Breaker merupakan peralatan pemutus daya yang berfungsi sebagai peralatan keselamatan untuk digunakan pada instalasi sistem tenaga listrik dengan impedansi pentanahan yang tinggi untuk mencegah kejadian tersengat listrik. Alat ini akan mendeteksi jika ada tegangan sisa pada enclosure peralatan yang terbuat dari logam dan akan memutus rangkaian listrik ketika tegangan yang berbahaya terdeteksi. Secara garis besar ada dua jenis ELCB, ELCB yang bekerja berdasarkan tegangan dan ELCB yang bekerja berdasarkan arus atau biasa dikenal sebagai RCCB (Residual Current Circuit Breaker).
    ELCB Wiring Diagram
    Ketika tegangan dari bagi enclosure peralatan tersebut meningkat (sebagai akibat dari bersentuhannya kawat/bus fasa dengan bagian enclosure atau terjadi kegagalan insulasi) yang dapat menimbulkan terjadinya perbedaan tegangan antara tanah dan bagian enclosure yang menimbulkan potensi terjadinya sengatan listrik. Perbedaan tegangan ini akan menghasilkan arus yang mengalir dari bagian enclosure peralatan melewati kumparan relai menuju ke tanah. Ketika tingkat tegangan di bagian enclosure peralatan melebihi 50 Volt, besarnya arus yang melewati kumparan relai dapat menggerakkan kontak relai yang memutus sumber arus yang dapat mencegah bahaya sengatan listrik. ELCB akan tetap dalam kondisi OFF sampai di reset secara manual. 
    Gambar ELCB yang ada dipasaran sekitar tahun 1960-1970an
    Courtesy of Pauluk from Electrical Contractor Forum
    Wiring pada ELCB yang ada dipasaran sekitar tahun 1960-1970an.
    Courtesy of Pauluk from Electrical Contractor Forum

    Namun yang perlu diingat adalah ELCB berbasis tegangan tidak mendeteksi arus gangguan dari bagian yang bertegangan ke bagian yang ditanahkan, melainkan hanya mendeteksi apabila terjadi perbedaan potensial antara bagian enclosure yang seharusnya tidak bertegangan dengan kawat pentanahan sebagai acuan tegangan 0 volt. Jika terjadi gangguan dari bagian yang bertegangan dengan pentanahan di luar rangkaian peralatan tersebut (misalnya orang atau suatu pipa metal) maka ELCB berbasis tegangan ini tidak akan terputus karena tegangan pada kawat pentanahan peralatan tidak berubah. Bahkan ketika gangguan terjadi antara bagian bertegangan dan pentanahan dari rangkaian peralatan, kondisi paralel pada jalur pentanahan yang diciptakan oleh pipa gas atau air dapat menyebabkan ELCB akan dilewatkan begitu saja. Sebagian besar arus gangguan akan melewati pipa karena impedansi pada kawat pentanahan kan jauh lebih besar dibandingkan dengan ratusan meter pipa metal yang terkubur di dalam tanah.

    Karena hal ini lah ELCB yang berbasis tegangan sudah ditinggalkan dan digantikan dengan ELCB berbasis arus atau RCCB.

    RCCB

    ELCB berbasis arus lebih dikenal dengan nama perangkat residual current. Peralatan ini juga berfungsi untuk melindungi dari arus bocor. Kedua rangkaian konduktor (konduktor suplai dan konduktor kembali) dilewatkan pada kumparan pendeteksi. Jika ada ketidakseimbangan pada arus maka akan menyebabkan ketidakseimbangan pada medan magnet, sehingga medan magnet tidak benar benar menghilangkan satu sama lain. 
    Gambar Wiring pada RCCB
    Contoh RCCB di pasaran saat ini. Courtesy of Schneider-Electric

    Kumparan sumber (kumparan fasa), kumparan netral dan kumparan pendeteksi semuanya dililitkan pada bagian inti dari transformator. Pada suatu rangkaian yang normal maka terdapat sejumlah arus yang besarnya sama masuk melewati kumparan fasa menuju beban dan kembali melalui kumparan netral. Baik kumparan fasa maupun kumparan netral dililit dengan cara berlawanan sehingga mereka menghasilkan fluks magnetik yang juga saling berlawanan. Ketika terdapat arus yang besarnya sama melewati kumparan fasa dan kumparan netral, maka fluks magnet yang timbul akan saling menghilangkan satu sama lain.

    Ketika terjadi gangguan atau ada arus bocor ke tanah di rangkaian beban, atau dimanapun diantara rangkaian beban dan output dari rangkaian RCD maka arus kembali yang melalui kumparan netral akan berkurang. Sehingga fluks magnet yang dihasilkan pada inti transformator tidak seimbang lagi. Sisa dari flux magnet yang tertinggal inilah yang dinamakan fluks residu.

    Perubahan dari fluks residu di dalam inti transformator akan memotong kumparan pendeteksi. Kejadian ini akan menghasilkan electromotive force (emf) pada kumparan pendeteksi. Gaya emf  ini pada dasarnya merupakan arus bolak balik (AC). Tegangan yang terinduksi di kumparan pendeteksi akan menghasilkan arus di dalam kawat trip circuit. Arus inilah yang mengoperasikan Itripping coil dari pemutus tenaga. Karena arus pembuat trip ini didorong oleh fluks magnet residu antara kumparan fasa dan kumparan netral, maka arus ini dinamakan perangkat arus residu (residual current device).

    Oke, sekian dulu untuk berbaginya di artikel ini. Mudah mudahan bisa bermanfaat untuk kawan kawan semua. Maaf untuk yang bagian ELCB dan RCCB bahasanya agak kaku karena ngambil dari tesis saya sendiri. Mungkin nanti akan saya edit agar lebih "manuasiawi" bahasanya :)

    Terima kasih sudah mampir 

    Source:
    yang mau baca baca tesis saya terkait harmonic dan ELCB bisa mampir di alamat ini http://www.lib.ui.ac.id/detail?id=20389485&lokasi=lokal

    Sabtu, 13 Mei 2017

    Transformer Winding Connection

    Transformer Connection

    Secara teori transformator tiga fasa merupakan tiga buah transformator satu fasa dengan inti yang digunakan secara bersama. Besarnya tegangan yang diubah oleh transformator ditentukan oleh perbandingan jumlah kumparan di sisi primer dan sisi sekunder. Hubungan antara kumparan primer dan kumparan sekunder secara umum ada 3 diantaranya:
    1. Koneksi Star (Wye)
    2. Koneksi Delta 
    3. Koneksi Zigzag
    Koneksi Star (Wye)
    Pada koneksi star (wye) ketiga kumparann terhubung pada bagian titik ujungnya. Bagian ujung ini merepresentasikan titik hubungan neutral. Transformator dengan koneksi star ini direpresentasikan pada gambar dengan lambang Y pada sisi tegangan tingginya serta menggunakan lambang y pada sisi tegangan rendahnya.

    Untuk aplikasinya transformator dengan koneksi star (wye) kita gunakan untuk aplikasi di tegangan tinggi serta pada arus yang rendah.

    Koneksi Delta
    Pada transformator dengan koneksi delta, bagian ujung dari kumparan dihubungkan dengan bagian awal dari kumparan lain. Sehingga jika kita lihat seolah olah kumparan dihubungkan secara seri. Transformator dengan koneksi delta digambarkan dengan lambang D pada sisi tegangan tinggi serta lambang d pada sisi tegangan rendah. 
    Aplikasinya digunakan pada arus yang besar serta tegangan yang rendah.

    Koneksi Zigzag
    Pada transformator dengan koneksi zigzag, setiap fasanya memiliki dua winding yang seimbang pada bagian inti yang tidak sama panjang. Sehingga akan ada dua fasa pada masing masing bagian inti dengan satu winding di masing masing inti dihubungkan pada bagian ujungnya. Transformator dengan koneksi zigzag di indikasikan dengan Z atau z. Koneksi jenis zigzag membutuhkan 15.5% kumparan lebih banyak dibandingkan transformator dengan koneksi biasa sehingga ukuran transformator zigzag akan lebih besar dan lebih mahal
    Transformator jenis zigzag digunakan pada aplikasi dimana sering terjadi unbalance load antara fasa dan neutral seperti instalasi daya untuk jaringan penerangan.

    Vector Group
    Koneksi dari semua kumparangan pada transformator tiga fasa di indikasikan oleh simbol Vector Group. Simbolnya ditunjukan dengan apa jenis koneksi kumparannya serta berapa besar perbedaan fasanya dalam bentuk indeks numerik (contohnya Dny11)

    Metode Jam digunakan untuk menghasilkan indeks numerikal dari vector group dengan masing masing setiap jam nya merepresentasikan pergeseran fasa 30 derajat

    Berikut ini adalah koneksi tiga fasa yang umum diantaranya Dyn5, Dyn11, Yyn0, Yd1, Yd11, Dz0, Yz1 and Yz11.
    • Dyn5




    • Dyn11



    • Dz0

    • Yd1


    • Yd11



    • Yyn0



    • Yz1



    • Yz11


    sekian dulu pendahuluan untuk koneksi transformator. Berikutnya kita akan lebih detail membahas vector group pada transformator.

    Reference: electrical-engineering-portal.com

    Selasa, 14 Juni 2016

    ETAP Tutorial, Getting Started.

    Ketika memulai software ETAP untuk pertama kalinya, maka kamu akan menemukan layout dari software kurang lebih akan seperti ini:

    pada deretan toolbars di sisi atas kamu akan menemukan command pengaturan standard seperti File, Edit, View, Project, Library, Defaults, Tools, RevControl, Real Time, Window, dan tombol paling sakti yang terakhir adalah Help :)

    Tombol tombol tersebut bisa kamu explore sendiri nantinya tapi ada satu menu yang menurut saya harus banget kamu sering pakai untuk sekadar menguasai atau mengetahui pemakaian software ini adalah Help. Feature Help di software ini sangat sangat membantu, bahkan untuk beberapa hal dijelaskan basic engineering knowledgenya bahkan standard yang dipakai untuk melakukan perhitungan atau simulasi. Jadi sering sering dipakai ya :)

    Dibagian tengah atas kamu akan menemukan modul toolbar yang berisi simulasi simulasi jenis apa saja yang bisa kamu pakai pada software ini:

    Dari paling kiri ke kanan secara berurutan adalah Load Flow, Unbalance Load Flow, ANSI Short Circuit, Motor Starting, Harmonic study, Transient Study, STAR (relay coordination), Reliability, Optimum Load Flow, DC Load Flow, DC Short Circuit, dan terakhir Battery Sizing. Ketika salah satu modul simulasi ini dipilih, maka pada sisi kanan akan muncul detail command untuk melakukan analisis. Sebagai contoh ketika kita pilih load flow modul, maka akan muncul analysis toolbar format sebagai berikut:

    Kita lanjutkan, pada sisi paling kiri dari Modul toolbar tersebut (gambar pensil) adalah edit mode, dimana option ini kamu pilih ketika hendak menambahkan atau merubah one line diagram.


    ketika kamu memilih edit mode, maka pada sisi kanan layout akan muncul elemen elemen AC, DC, maupun instrumentasi yang bisa ditambahkan pada one line diagram.

    Ada beberapa rule of thumb penting yang harus kamu ingat ketika menggunakan software ini. Lumayan banyak, tapi nanti seiring penggunaan kita akan hapal dengan sendirinya kok. Rule of thumb diantaranya:
    • Semua penamaan element secara default terdiri dari (Default ID) +  (A unique Number). Sebagai contoh ketika kita menambahkan satu bus, maka secara default bus yang pertama kali muncul akan memiliki nama Bus1. Bus kedua yang kita tambahkan akan bernama Bus2 dan seterusnya.
    • Ada beberapa cara untuk menghubungkan Bus dengan Element:
      • Letakkan kursor diatas pin dari suatu element, maka pin tersebut akan berwarna merah.
      • Tarik Element yang hendak ditambah dan letakkan pin nya pada bus.
      • Bus sebenarnya adalah pin yang panjang.
      • Relay tidak bisa dihubungkan langsung dengan bus.
      • Hanya satu pin dari suatu element yang bisa dihubungkan dengan bus yang sama.
    • Menghubungkan element dengan element:
      • Taruh kursor diatas pin suatu element, left clik lalu drag mouse nya ke element yang hendak kita hubungkan. Ketika sisi pin element yang dituju berwarna merah, kita lepaskan left click kita.
      • Tarik dan lepaskan protective device dengan posisi pin nya berada diatas pin dari cabang atau beban.
      • Tarik protective device ke koneksinya langsung.
      • Antar cabang tidak bisa dihubungkan secara langsung, ETAP secara otomatis akan menyisipkan bus ke dalam one line diagram kita.
    • Jika one line diagram kita ada kemungkinan bersilangan atau bertumpuk, bisa kita rapihkan dengan menggunakan remote connector. Sehingga one line tetap terlihat rapi:
    • Menambahkan element proteksi bisa dilakukan dengan insert element ke dalam one line yang sudah ada tanpa kita merubah koneksi yang sudah ada antara bus dengan element. Contohnya jika kita hendak menyisipkan Circuit Breaker dan Fuse diantara Bus dan Trafo maka setelah kita pilih element CB dan Fuse nya bisa kita ambil langsung dan letakkan diantara Bus dan Trafo.
    Oke, sampai sini dulu pendahuluan terkait penggunaan ETAP nya. Next time akan kita lanjut dengan cara create project dan kita lakukan sedikit simulasi. Thank you :)

    Senin, 13 Juni 2016

    Kenapa memakai ETAP?


    Untuk kawan kawan yang bergelut di dunia electrical engineering, tentu saja sudah tidak asing dengan software perhitungan power system yang bernama ETAP. 

    Perkenalan penulis dengan software ini dimulai ketika di bangku kuliah, pada saat itu software ini belum terlalu booming seperti sekarang. Dengan versi 4.0.0 pada waktu itu hanya segelintir kawan kawan yang pernah dan bisa memakainya. Modul simulasi yang ada juga belum terlalu banyak, ditambah lagi ketika simulasi setting relay harus menggunakan add on software yang berbeda..oh, those good old days :)

    Sampai tulisan ini dibuat ETAP sudah membuat versi 14.1 and they keep improving. Kalau kamu mampir ke website ETAP maka kamu akan sadar sudah betapa banyak dan kompleksnya simulasi yang bisa dikerjakan dengan menggunakan ETAP. Selain itu kompatibilitas dengan system komputer 64 bit juga sudah menjadi feature standard.
    Source: ETAP.com

    Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa memakai ETAP? Sejujurnya ketika kawan kawan yang pernah dan sedang bekerja di bidang engineering pasti sadar, software yang powerfull banget itu justru adalah...microsoft excell :). Hanya saja ketika jumlah perhitungannya sudah terlalu banyak dan terintegrasi dengan sistem yang besar, maka menggunakan software simulasi seperti ETAP akan memberikan kemudahan tersendiri. So apa aja kelebihan menggunakan ETAP menurut saya?
    1. Better user interface
    2. Help function
    3. Customization
    4. Tons of Calculation Module
    Ga adil rasanya kalau memberikan pendapat hanya berupa kelebihan tanpa kekurangan. Buat penulis pribadi, kekurangan utama software ini adalah 
    1. High price tag
    2. Divergent iteration
    Jadi kesimpulannya, kalau tersedia software ini dikantor maka hidup kawan kawan electrical engineer akan semakin mudah. Akan tetapi software ini bukannya tanpa cela. Tidak ada software engineering yang sempurna. 

    Yang paling utama adalah engineernya itu sendiri. Tanpa knowledge engineering maka semua software tidak akan berfungsi dengan optimal :)

    Let me know your comments below.

    Apa saja jenis jenis Earthing System ?

    Terdapat beberapa macam skema earthing pada sistem tenaga listrik yang biasa diterapkan. Beberapa skema ini memiliki perbedaan karakteristi...